Selasa, 19 April 2011

Jakarta - Bromo - Home Town - Nikah - Ngerong - Jakarta

"Penuhilah hak kaum muslimin...."

Salah satunya adalah hadir ketika diundang. Yup.....seperti sebelumnya, perjalanan ke Bromo kali ini pun dilakukan dalam rangkaian acara: "Mengadiri Pernikahan Sahabat". Bedanya, lokasi pernikahan sekarang ratusan kilo meter dari Bromo....melelahkan? tentu saja.

Postingan Bromo yang pertama: Gunung Bromo

15 April 2011
Perjalanan dimulai sore hari sepulang kerja.Saat itu, saya berangkat bersama ketiga kawan yang juga sekantor dan sekampus. Sebelum berangkat, saya membeli selembar alas tidur seharga Rp 5.000,00. Cukup murah dan bermutu. Sudah lumayan lama saya mengincar alas tidur ini, karena bisa digunakan untuk perlengkapan hiking.

Pukul 16.10an kereta Gumarang kelas bisnis yang kami tumpangi memulai perjalanannya. Nampaknya taraf hidup masyarakat Indonesia telah berkembang cukup pesat. Enam tahun lalu, rasa-rasanya kalau kita naik kereta kelas bisnis akan terasa cukup mewah. Namun, saat ini kereta kelas bisnis hampir sama rasanya seperti kelas ekonomi. Penuh....panas....pedagang asongan...penumpang gelap...penumpang tanpa kursi...asap rokok di mana-mana...huhhh....sangat menyebalkan. 

Satu-satunya berita gembira adalah tampaknya semakin banyak warga Indoonesia yang mulai berani menunjukkan identitas keagamaannya. Sering saya jumpai penumpang yang tidak segan-segan membaca Alquran dan sholat di kereta. Bahkan ada yang nenggunakan mukena (puteri).

Tampaknya tak banyak yang bisa saya ceritakan saat perjalanan di kereta. Bukan karena tidak ada yang menarik, tapi karena saya tidur sepanjang perjalanan...hahahahaha

16 April 2011
Kami tiba di stasiun Turi Surabaya kira-kira pukul 07.00an. Setelah mandi dan sarapan di warung di luar stasiun, perjalanan kami lanjutkan dengan menumpang bus P5 menuju terminal Purabaya atau lebih dikenal dengan nama terminal Bungurasih. Dari sini kami lanjutkan dengan menumpang bus ke arah Probolinggo. Lama perjalanan kira-kira 3-4 jam. Tergantung situasi jalan, macet atau tidak.
Kira-kira pukul 11-12an kami tiba di terminal probolinggo. Dari sana kami bertemu dengan dua orang pelancong yang ternyata juga ingin menuju gunung Bromo. Untuk menghemat ongkos, tanpa babibu lagi ku tawari mereka untuk bareng-bareng menyewa kendaraan khusus Bromo yang oleh warga sekitar disebut "Bison".




Harga sewa Bison berkisar antara Rp 200-250ribu untuk tujuan Cemoro Lawang. Cemoro Lawang adalah sebuah kawasan yang menjadi pintu masuk padang pasir di Kaldera Bromo dari arah Probolinggo. Kendaraan itu bisa mengangkut hingga 10 orang termasuk perlengkapan hiking. Waktu tempuh antara terminal Probolinggo dan  Cemoro Lawang adalah 1-2 jam, tergantung keadaan.



 Entah beruntung atau tidak, saat sampai di sekitar kawasan Bromo, tiba-tiba turun hujan deras. Tak ayal lagi, jalanan menjadi cukup berbahaya, ditambah lagi dengan kabut tebal. Agak merinding kami dibuatnya, karena di kanan kiri jalan ada jurang yang curam dan dalam. Kira-kira pukul 13.00 kami tiba di Cemoro Lawang, di sini, kami berpisah dengan dua pelancong tadi karena mereka telah memesan sebuah hotel dan berencana tinggal dua hari di Bromo. Harga sewa kamar hotel mereka (Lava View Hotel) berkisar Rp 500ribuan. kalau mau yang murah, kita bisa menginap di rumah warga yang juga menyewakan kamar rumahnya untuk para pengunjung yang berkantong tipis...wkkkkk.........

Kita juga bisa membeli perlengkapan hiking sederhana di pedagang yang menjajakan dagangannya di sana. Dari Cemoro lawang, kalau kita mau ke padang pasir dan kawah Bromo, kita cukup berjalan kaki saja. Tapi kalau kita mau menuju ke Pananjakan juga, kita harus menyewa Hartop. Harganya 250ribu untuk dua lokasi itu. 
Karena, kami baru kali itu melalui jalur Cemoro Lawang, kami latah menyewa sebuah hartop. Sayang memang, tapi ya sudahlah...nasi sudah menjadi bubur. Uang pun melayang sia-sia...

 Kika: Aku, Mbing, dan Takay

Oya, kunjungan kami ke gunung Bromo saat itu adalah kunjungan pasca erupsi...bila diperhatikan, dampaknya lumayan parah...pohon-pohon tumbang...jalan tertutup pasir..dst. Bahkan anak tangga ke kawah Bromo pun lenyap....kami tidak bisa menemukan anak tangga di kaki Bromo. Sehingga kami tidak sempat melihat kawahnya. Selain itu, kami juga diburu waktu untuk segera kembali ke Lamongan (rumahku ^^). 

Yang bisa ku katakan tentang Bromo pasca erupsi adalah.....indah dan cukup mengerikan. 

Indah..tentu saja keindahannya berbeda dengan keindahan Bromo sebelum erupsi. Saat ini Bromo terasa lebih alami, bersih, dan semakin gagah dengan asapnya yang semakin banyak...Suara gemuruh dari kawah Bromo pun terdengan cukup jelas dari kaki Bromo (padang pasir)...








Mengerikan, karena kaki gunung yang biasanya hijau lebat kini gundul kelabu...tak ada lagi pepohonan hijau yang tumbuh di kaki gunung dengan lebat. Hal ini menyebabkan kawasan ini rawan bencana longsor jika musim penghujan tiba (padahal gunung kan kawasan yang selalu hujan @_@).



Setelah puas berkeliling Bromo, kami langsung tancap gas turun gunung menuju Lamongan. Jalur Probolinggo - Surabaya macet, panas, jalan jelek, asap rokok di mana-mana menghiasi bus yang kami tumpangi...tapi tak apalah, di Lamongan, kita bisa sedikit cuci paru-paru.....

17 April 2011

 Rimbun




 Sunrise @ my village


 Terbatasnya fasilitas tidak menyurutkan semangat untuk bersenang-senang

Sampailah kita di acara utama perjalanan ini....jreng..jreng....Pernikahan Sahabat : Masronggo Cokro PUSPITO

Sayangnya kami tidak sempat menghadiri akad nikahnya, karena si mbing mandinya kelamaan...kaya cewek aja kalau dia mandi...beuuuhhh......

Acara pernikahan sepertinya mengikuti adat jawa..sebenarnya aku g tahu itu adat apaan, tapi berhubung kedua mempelai orang jawa ya sudahlah, apalagi.... :P






Setelah  mengikuti rangkaian ceremoni upacara adat dan berfoto bersama, kami pun pamit...Namun, sebelum pulang kami menyempatkan diri mampir di Gua Ngerong..

Di Gua Ngerong, kita bisa menyaksikan ribuan kelelawar yang bergalantungan di atap gua. Di bagian dasar gua ada sungai yang merupakan habitat ikan, kalau orang jawa menyebutnya Bader/Wader. Makanan utama ikan ini adalah kotoran kelelawar yang jatuh dari langit-langit gua.


 

1 komentar:

  1. Bromo Tanjung Pondok Pertanian
    Dalam rangka Memperkenalkan " Kawasan Tengger-Bromo" dr segala aspek, kami buka pondok pertanian tanjung-tosari unt umum, dng hanya membayar 'sukarela' (tanpa tarif)
    Pondok pertaniaan tanjung terletak di dukuh: Tanjung rt.03. rw.03.(KM 99) desa: Baledono. kec: Tosari. kab: Pasuruan Ja-Tim. (Km. 99. dari Surabaya)
    Akses menuju pondok pertanian tanjung: dari 'Pasuruan' ambil arah malang smp di 'Warungdowo' (-+ 5km) belok kiri smp 'Ranggeh' belok kanan menuju 'Pasrepan' >>> 'Puspo' >>> melewati hutan2 mahoni dan pinus smp dukuh 'Jonggo" >>> melewati hutan pinus smp ketemu rumah pertama lansung belok kiri turun kebawah, ” Podok Pertanian Tanjung” terletak di sebelah kiri jalan dr pasuruan di Km.99 . Kurang lebih 7 km sebelum kec: Tosari.

    @.kamar los + 2 km mandi luar kapst: 8 s/d 16 orang, cukup memasukan dana "sukarela" ke kotak dana perawatan pondok pertanian. (tanpa tarif)
    @.kamar utama + km mandi dalam + perapian, kapst: 2 s/d 4 orang. Rp.150.000,- /malam

    *.fasilitas:.dapur,. kulkas,. ruang makan,. teras (4 x 12 m),. halaman api unggun,. tempat parkir unt 6 mobil,. kebun sayur.
    *.bisa masak sendiri dng menganti LPJ dsb..Rp.30.000,-
    * dimasakkan prasmanan Rp.20.000,- 1x.makan. ( nego)

    # untuk informasi hub per sms/tlp: 081249244733 - 085608326673 ( Elie – Sulis ) 081553258296 (Dudick). 0343-571144 (pondok pertanian).
    # Informasi di Facebook dengan nama : Bromo Tanjung Pondok Pertanian

    BalasHapus