Minggu, 31 Oktober 2010

Gunung Merbabu

Trek Menuju Pos Pemberangkatan

Pada awal tahun 2010, aku dan teman2 melakukan pendakian ke gunung Merbabu. Sebelumnya, pada tanggal 17 Agustus 2006, kami juga pernah mencoba melakukan pendakian ke gunung ini, Namun karena tekad yang kurang kuat ditambah dengan perlengkapan, peralatan, dan logistik yang kurang memadai  akhirnya kami gagal "muncak" dan "hanya" bisa melakukan upacara kemerdekaan di Pos 2. Walau demikian, upacara itu merupakan upacara yang sangat berkesan. Bagaimana tidak? Upacara itu dilakukan di atas gunung!!! Sungguh mengharukan.

Kembali ke topik utama. 

Gunung Merbabu memiliki ketinggian 3.142 mdpl, merupakan gunung yang tergolong dalam gunung api tua yang terletak bersebelahan dengan gunung Merapi yang masih aktif (saat blog ini ditulis, gunung Merapi baru saja meletus dan menewaskan puluhan warga). Puncak gunung Merbabu ada dua, yaitu Puncak Sarip yang terletak pada ketinggian 3.120 m dpl dan Puncak Kenteng Songo dengan ketinggian 3.142 m dpl.

Kami berangkat dari rumah salah seorang teman di Magelang (kami menginap di sana karena sebagian anggota tim ada yang berasal dari Jakarta) selepas sholat Ashar dengan menyewa sebuah truk. Kalau tidak salah ingat (maklum udah lama :P) kami  menggunakan jalur Wekas sebagai jalur pendakian. Anggota tim pendakian cukup banyak, ada 19 orang. kira-kira 1-2 jam kami tiba di kaki gunung Merbabu. Dari sana kami berjalan kaki menuju Pos 1 (pemberangkatan).

Trek Menuju Pos Pemberangkatan

Lintasan Pos 1 cukup lebar dengan bebatuan yang mendasarinya. Sepanjang perjalanan kami menemui ladang penduduk khas dataran tinggi yang ditanami bawang, kubis, wortel, dan tembakau. Rute menuju Pos 1 cukup menanjak dengan waktu tempuh sekitar dua jam. Pos 1 merupakan sebuah dataran dengan sebuah balai sebagai tempat peristirahatan. Di sekitar area ini masih banyak terdapat warung dan rumah penduduk.

Di Pos 1 kami beristirahat sebentar, sholat Magrib dan Isya', dan dilanjutkan dengan makan malam. Harga makanan di sini sangat murah bila dibandingkan dengan harga Jakarta. Jika kita  membutuhkan perlengkapan tambahan seperti sarung tangan dan penutup kepala, kita juga bisa membelinya di sini. 

Foto Bersama di Pos 1

Pemandangan di sekitar Pos 1 sudah lumayan bagus. Contohnya:


Pemandangan Alam di Pos 1

Umumnya, para pendaki memilih melakukan pendakian pada malam hari untuk menghindari teriknya sinar matahari yang tentunya akan sangat menguras tenaga. Pada Pukul 21.00-22.00 kami mulai melakukan pendakian. Tujuan pertama kami adalah Pos 2.
Foto Bersama Anggota Tim

Sebelum melakukan pendakian, kami berdoa bersama terlebih dahulu agar diberi kemudahan dan keselamatan karena di alam liar seperti itu, nasib seseorang hanya Allah SWT yang tahu. Jalur menuju Pos 2 sudah mulai menanjak. Hal ini tentu akan menguras cukup banyak tenaga, oleh karena itu ketua rombongan menginstruksikan kepada kami agar jangan segan2 meminta break jika kelelahan. Tapi saat itu aku tidak pernah meminta break karena gengsi (hahahaha....mending teman lain yang minta break dan kita ikut menikmati :P). Perjalanan menuju Pos 2 kami tempuh kira-kira 3-4 jam (maklum sebagian besar anggota tim masih newbie. klo aku masuk mana?? kira2 ndiri lah...wkkkk).

Foto Saat Break

Sesampainya di Pos 2, kami mendirikan satu buah tenda dan dua buah dom. Di sini ada sumber mata air yang jernih yang dapat digunakan oleh para pendaki untuk keperluan masak, minum, dll.

Mendirikan Tenda

Di pagi hari, kita akan disuguhkan pemandangan alam yang luar biasa. Pemandangan yang akan membayar lunas semua kelelahan yang kita rasakan. Udara yang sejuk (sejuk?? dingin kaleeee.....) dan bersih yang akan membersihkan paru-paru dari kotornya udara Jakarta.



Pemandangan Alam di Pos 2

Tidak semua anggota tim meneruskan perjalanan ke puncak. Seperti yang sudah-sudah, faktor tekad akan memainkan peran penting di sini. Hanya orang2 bertekad kuat yang mau melanjutkan perjalanan (cielaaa....:P). Dari 19 orang anggota tim pendaki, hanya delapan orang yang memiliki tekad kuat tsb dan meneruskan perjalanan meuju puncak (jijay bgt...wkk). Siapakah mereka??? Ini dia:

Aku dan Paijo

Tim Pemuncak (Tim 8)
Anggota Tim ki-ka atas (arah pembaca) --> Adit, Roni, Windra, Paijo (membungkuk), Wawan
Ki-ka bawah -->  Latief, Aku, Takay

Sungguh menyesal orang2 yang tidak melanjutkan perjalanan, karena pemandangan yang mereka lihat di Pos 2 ,walaupun tergolong indah, tidak seindah pemandangan alam yang kami saksikan di sepanjang perjalanan menuju puncak. Menurutku pemandangan terindah yang dimiliki gunung Merbabu adalah jalur pendakian naik-turun menuju puncak gunung Merbabu itu sendiri beserta pemandangan2 di sekitarnya, bahkan lebih indah bila dibandingkan dengan pemandangan di puncaknya.

Puncak yang kami tuju adalah Kenteng Songo yang merupakan puncak tertinggi gunung Merbabu.


Pemandangan Jalur Puncak Kenteng Songo

Trek menuju puncak cukup terjal, tidak jarang kita harus memanjat batu-batu untuk melalui jalurnya. Sungguh menarik.


Trek menuju puncak

Foto-foto dulu....hehe...

Oya, sebelum lupa. Orang yang berbaju merah di atas adalah adalah pemandu kami. Sangat berpengalaman. Namanya Mas Latief. Tampaknya dia anggota REKAT yang benderanya dibawa serta saat pendakian.


Pemandangan Jalur Puncak Kenteng Songo

TRAGEDI

Ada satu hal konyol yang kami lakukan saat melakukan pendakian menuju puncak. Berdasarkan informasi yang kami terima, perjalanan menuju puncak dari Pos 2 hanya satu jam, paling lama1,5 jam. Sehingga waktu tempuh total  paling lama tiga jam. Berdasarkan informasi tersebut, dengan rasa percaya diri tinggi, Tim 8 hanya membawa satu botol besar air minum tanpa makanan plus air cadangan yang memang selalu aku masukkan ke dalam tas buat jaga-jaga.  Dan........olala...ternyata waktu tempuh menuju puncak bukan 1,5 jam tapi 3,5 jam sehingga waktu tempuh total 7 jam !!!!! Mengerikan...

Baru 1/2 perjalanan menuju puncak (belum turunnya) dan kami sudah kehabisan air di botol besar itu. Yang tersisa hanya cadangan air yang aku bawa dalam tas. Air dalam tasku tidak aku keluarkan sampai di puncak/turun agar kami tidak benar-benar kehabisan bekal air. Tersiksa? Pasti. Untungnya di sepanjang perjalanan ada cukup banyak pohon arbei liar yang buahnya dapat dimakan. Kami pun terpaksa "bertahan hidup" dengan memakan buah arbei liar tsb (dan tak lupa mengumpat sang pemberi informasi........ wkkkkkkk).

Buah Arbei Liar, Buah "Penyambung Hidup"

Pemandangan Jalur Puncak Kenteng Songo

Teler Kehabisan Air

Jalur Puncak Kenteng Songo

Mencari-cari Buah Arbei Liar

Akhirnya, PUNCAK!!!!!!!

Aku

Dom para pendaki di Puncak Kenteng Songo

Kenteng Songo

Ada cerita mengapa puncak ini disebut Kenteng Songo. Konon ada Kenteng (batu dengan lubang bulat di tengahnya yang digunakan sebagai tempat untuk menumbuk padi) yang jumlahnya ada sembilan (songo dalam bahasa Jawa) yang secara "ajaib" ada di atas puncak ini dan selalu berpindah-pindah.  Benar tidaknya cerita ini aku tidak ambil peduli, yang aku tahu Pemandangannya luar biasa ^^.

Foto Bareng di Puncak

Setelah Puas menikmati pemandangan di puncak, kami pun segera turun kembali menuju Pos 2.

Jalur Puncak Kenteng Songo
(menarik bukan?? ^^)

Salah satu trek yang terkenal di gunung Merbabu adalah Jembatan Setan. Disebut demikian bukan berarti ada sesuatu yang mistis di sana, tapi lebih karena jalurnya yang cukup "mengerikan" karena "didampingi" dengan jurang yang dalam di sisi kanan dan kiri jalur tersebut. Tingkat bahaya akan semakin meningkat jika ada angin kencang yang berhembus, oleh karena itu kita harus selalu waspada dan konsentrasi. Jalurnya kira-kira seperti ini:

Jalur Puncak Kenteng Songo (Jembatan Setan)

Pemandangan Jalur Puncak Kenteng Songo

Jalur Puncak Kenteng Songo (Jembatan Setan)

Jalur Puncak Kenteng Songo (Jembatan Setan)

Jalur Puncak Kenteng Songo (Jembatan Setan)

Pemandangan Jalur Puncak Kenteng Songo

Pemandangan Jalur Puncak Kenteng Songo

Pemandangan Jalur Puncak Kenteng Songo

Pemandangan Jalur Puncak Kenteng Songo

Pemandangan Jalur Puncak Kenteng Songo

Pemandangan Jalur Puncak Kenteng Songo

Salah satu penghuni gunung Merbabu

Pemandangan Jalur Puncak Kenteng Songo

Jalur Puncak Kenteng Songo

Salah satu penghuni gunung Merbabu

Salah satu penghuni gunung Merbabu

Pemandangan Jalur Puncak Kenteng Songo

Pemandangan Jalur Puncak Kenteng Songo

Jalur Puncak Kenteng Songo

Jalur Puncak Kenteng Songo
(sial, aku terperosok)

Pemandangan Jalur Puncak Kenteng Songo

Pemandangan Jalur Puncak Kenteng Songo

Jalur Puncak Kenteng Songo

Kami mulai turun dari Pos 2 kira-kira selepas Dhuhur dan sampai di Pos 1 kira-kira waktu Ashar. Perjalanan turun gunung relatif lebih cepat dan rasa lelah yang dirasakan tidak sehebat waktu naik. Kami juga sempat diguyur hujan saat itu.

Di Pos 1 kami beristirahat sebentar untuk sholat dan makan. Sebelum Maghrib, kami pulang dengan menyewa sebuah mobil pickup terbuka.

Beres-beres dan pulang



25 komentar:

  1. ya maklum masih newbie gan....ehehehe..

    BalasHapus
  2. ekekekeke....ok sip lah....punyamu jg udah aku pampangin...

    BalasHapus
  3. walah2, iki toh hasil seminggu ga ngantor? jan tenan og...
    btw aku njaluk poto2 ne lah boi...

    BalasHapus
  4. weis..ngawur....mana aja pegawai kompeten seperti saia menyia2kan waktu g ngantor :P

    kalo mau datang ke kosan...haha..

    oya, jangan lupa masukin blogku ini ke daftar blogmu.....

    BalasHapus
  5. potonya keren gan. diambil pake apa?
    klo ke gunung kayaknya belom brani gan, smua gunung api lagi batuk,,
    btw nice share gan

    BalasHapus
  6. @miko...hehehhe...thanx gan....mudah2an akhir desember udah pada sembuh gunung2 itu...mau hiking euy.....

    BalasHapus
  7. Kalian ambil jalur "Wekas" ya, atau jalur "Cunthel"? Yach... itu memang jalur tercepat menuju ke puncak Helipad, tetapi pemandangannya monoton karena kalian melulu didalam hutan tertutup bukit dan pohon. Coba sekali lagi naik tapi lewat jalur "Tekelan", kalian akan menyaksikan sensasi "Seribu bintang" selepas pos III, pandanglah keatas! Belum lagi banyaknya bintang yang susul menyusul berjatuhan seolah menantang kita membuat satu permintaan.

    BalasHapus
  8. hmm..iya gan...tgl 25 juni ini mau naik lagi ke sana...tapi lewat chuntel lagi kayaknya gan....korlaknya minta begitu plus kami cuma ada waktu 2 hari dengan cukup banyak pemula...jadi ambil yg tercepat aja kayaknya gan...btw nice info gan ^^

    BalasHapus
  9. waahh kerenn,, oohh berarti lewat chuntel itu jalur tercepat ya,,??? (Maklum masih pemula,,heheh ^_^)

    kalau boleh tau jika kita lewat "Wekas" kita butuh berapa lama untuk sampai puncak ya,,?? atau kalau lewat "Tekalen" ?? soalnya mau coba jalur2 itu ^_^ makasih ya untuk infonya,,!! ^_^ sukses buat tgl 25 nanti!! :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau jalur tercepat kayaknya jalur Selo, mas...

      urutannya mungkin begini (dari yang tercepat):
      1. Selo (+/-PP 6-10 jam tik tok)
      2. Wekas (+/-PP 6-11 jam tik tok)
      3. Chuntel (+/-PP 7-12 jam tik tok)
      4. Tekelan (+/-PP 7-12 jam tik tok)
      *ngarang :P

      kalau ditanya view terbaik:
      1. Tekelan
      2. Chuntel
      3. Selo
      4. Wekas

      btw, tgl 25 ada apaan, mas?? wkwkwkwk

      Hapus
    2. ooo.....itu 25 juni 2011, gan...wkwkwkwkwk....

      Hapus
  10. ane juga pernah ke merbabu gan kalo gak salah thn 2008 (2 bulan sebelum merapi meletus) naik dari kopeng turun selo lanjur ke puncak garuda ,,baliknya ke salatiga lagi bareng kk ipar soalnya kk ipar ane orang salatiga :) salam kenal gan

    BalasHapus
    Balasan
    1. hoho..slam kenal, gan.... ane pengen juga tik tok merbabu-merapi. belum kesampean T_T.

      thanx udah mampir :)

      Hapus
  11. lintas merbabu pengen juga, lama ga ngendus rumput di gunung. kalo lihat foto arbey itu langsung keinget dengan jalur selo, rumpun arbey pada bantaran savana dan rimbunan edelweis di atas watu tulis.

    BalasHapus
    Balasan
    1. merbabu emang gunung paling ajib di jateng..... keren lah :)

      Hapus
  12. itu jalur wekas mas, masuk kab magelang....

    keren lah udah nyampe kemana mana nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyo, ini jalur wekas.....

      baru nyampe sini2 aje :D

      Hapus
  13. gan ane newbie rencana perdana mau ke merbabu, cocoknya pake rute mana gan? minta pencerahan hehehe :D suwun

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe...ane jg newbie kok.. klo baik bagusnya via selo aja, turunnya via cuntel/tekelan. lbh eksotis jalur n viewnya. klo ngelewati 2 jalur itu sekaligus, anggap aja udah khatam Merbabu :D

      Hapus
  14. keren,,,,,pengalaman yg menyenangkan dan menegangkan sepertinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe..menyenangkan n konyol sih iya, menegangkan sih g juga :D

      Hapus
  15. Sayang banget bang gak dapet sunrise nya.. padahal kerenn bangett.. pas malem hari di puncak angin ane bisa liat bintang jatuhh... kece

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya.. wkwkwkwk.. maklum, tepar semua

      Hapus